Jarum Akupunktur. Seperti apa sih?


Umumnya, begitu mendengar kata ’tusuk jarum’ maka nyali orang langsung menciut. Bagi yang pernah merasakan perihnya tertusuk jarum suntik, duri atau benda tajam lainnya, maka ingatannya segera melayang kepada saat-saat yang penuh dengan siksaan itu. Srriiingggg… dan kemudian yang muncul adalah perasaan ngeri. Ditambah lagi dengan bayangan bahwa kalau di akupunktur itu kita tidak sekedar ditusuk dengan 1 jarum saja, tapi dengan banyak jarum. Haduuuh… gimana rasanya tuh?

Tenang… tenang. Sensasi yang kita rasakan ketika ditusuk dengan jarum akupunktur sangatlah berbeda dengan yang kita rasakan ketika ditusuk dengan jarum suntik, duri, atau benda tajam lainnya. Memang ada sedikit rasa perih, tapi sedikiiiiittt sekali dan sebentaaaarrr sekali.. dibandingkan dengan ueeenaaknya yang luuaaamaaaaa… he..he.. Bahkan cukup banyak orang yang tidak merasakan apa pun. ”Lho, jarumnya sudah masuk gitu, mbak?”, begitulah reaksi yang cukup sering saya dengar.

Oleh karena itulah beberapa orang malah bisa dibilang ’doyan’ ditusuk dengan jarum akupunktur. Hal ini karena efek relaksasi yang ditimbulkan oleh jarum-jarum ini. Ada yang bahkan ’tidak rela’ kalau hanya ditusuk dengan 1 – 5 jarum saja, maunya lebih dari 10 jarum. ”Lagi dong… lha wong biasanya juga sampai 15 kok,” protesnya. Walah, ini nih tipe yang bener-bener nggak mau rugi. Padahal manjur-tidaknya terapi akupunktur tidak bergantung pada sedikit-banyaknya jumlah jarum yang ditusukkan, tapi bergantung pada terapi yang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan saat itu. Dan terapi ini kadangkala hanya memerlukan penggunaan 1 jarum saja. Kalau lebih, malah akan membuyarkan efek yang diinginkan.

Back to our main topic of this post, seperti apa sih jarum akupunktur itu? Jarum akupunktur sangat berbeda dengan jarum suntik yang biasanya dipergunakan pada pengobatan medis Barat. Jarum medis Barat (dikenal dengan sebutan syringe) biasanya berrongga, strukturnya tebal dan kokoh, dan ujungnya runcing. Rongga pada syringe berfungsi untuk mengalirkan cairan yang diinjeksikan ke dalam tubuh atau mengalirkan cairan yang diambil dari tubuh. Struktur syringe yang tebal dan kokoh dimaksudkan untuk mempermudah penusukan, dan ujung yang runcing dimaksudkan untuk memotong dan menembus jaringan tubuh.

Berbeda dengan syringe, jarum akupunktur yang umum digunakan terbuat dari stainless steel dengan struktur yang padat tidak berrongga, sangat tipis (hampir setipis helaian rambut), lentur, dan berujung tumpul. Jarum yang seperti ini sering disebut dengan filiform needle. Dengan batang yang sangat tipis, kelenturan yang tinggi dan ujung yang tumpul maka memungkinkan jarum akupunktur untuk menyisip (bukan memotong) dengan luwesnya diantara serat-serat otot atau jaringan tubuh. Hal ini pulalah yang menyebabkan penusukan dengan jarum akupunktur seringkali tidak menimbulkan keluarnya darah, karena memang tidak ada jaringan tubuh yang terpotong (terkecuali untuk titik-titik tertentu yang lokasinya terletak pada atau berhimpitan dengan pembuluh darah, atau yang memang tujuan penusukan tersebut adalah untuk pengeluaran darah, more about this later…).

Pada jaman sekarang ini, biasanya jarum akupunktur yang dipergunakan adalah jarum yang disposable, sekali pakai trus dibuang. Setiap batang jarum dikemas secara terpisah untuk menjaga kesterilannya. Dengan jarum yang sekali pakai dan steril ini, maka tidak perlu ada kekhawatiran akan terjadinya transmisi penyakit dari satu pasien ke pasien lainnya. Namun demikian, for our own sake, tidak ada salahnya kalau kita selalu berjaga-jaga. Ada baiknya apabila Anda memastikan kembali bahwa akupunkturis yang Anda datangi benar-benar menggunakan jarum yang disposable ini. Seperti kata orang bijak, ‘teliti sebelum membeli’.

Nah, sesudah dijelaskan seperti ini, apa masih takut juga…?

One Response to Jarum Akupunktur. Seperti apa sih?

  1. Ping-balik: Sekilas Jarum Akupunktur « Wong168's Blog

%d blogger menyukai ini: