Akupuntur Sebagai Pereda Sakit


Mereka yang mengatakan bahwa akupuntur membantu meringankan penderitaan mereka, nampaknya ada benarnya.

Para ilmuwan telah menemukan metode pengobatan yang menggunakan jarum tersebut dapat membantu menghilangkan rasa sakit secara alami.

Temuan ini merupakan keuntungan bagi pengobat tradisional Tiongkok kuno yang telah dicemooh banyak orang sebagai ilmu pengetahuan semu.

Akupuntur telah digunakan selama lebih dari 4.000 tahun dan menurut sejumlah riset telah menunjukkan secara fisik dapat menghilangkan rasa sakit.

Sejumlah kritikus mengatakan hasil dari metode pengobatan ini seluruhnya ada dalam pikiran. Dan beberapa pasien memperoleh keuntungan akibat “efek plasebo”, di mana kepedulian, perhatian serta keyakinan sederhana akan mempengaruhi sehingga memberikan manfaat bagi kesehatan.

Namun Maiken Nedergaard, pakar neuroscience, yang memimpin penelitian ini, mengatakan, “Akupuntur telah menjadi arus utama perawatan medis pada bagian tertentu di dunia selama 4.000 tahun, akan tetapi karena belum dipahami sepenuhnya, banyak orang menjadi ragu.”

Ia mengatakan, penelitiannya telah mengungkap suatu mekanisme fisik melalui akupuntur pereda sakit.

Ilmuwan Rochester Medical Center, New York State ini, melakukan akupuntur pada borok kaki tikus.

Mereka diperlakukan seperti apa yang dilakukan pada manusia, menggunakan jarum halus yang ditusukkan ke titik tekanan dekat lutut dan dengan lembut secara bergantian setiap lima menit dalam setengah jam.

Selama dan sesudah terapi, tingkat adenosin, pereda nyeri yang kami buat ketika kami terluka, meningkat lebih dari 20 kali lipat dan rasa sakit terasa hilang sekitar dua pertiga.

Meningkatnya adenosin, tanpa akupuntur juga memberi efek tenang, menurut laporan jurnal Nature Neuroscience.

Namun temuan ini tidak menjelaskan dasar pemikiran untuk yang lain. Seperti, beberapa tekhnik akupuntur yang digunakan untuk membantu mereka berhenti merokok, atau digunakan untuk meningkatkan kesuburan melalui IVF.

Para peneliti mengatakan bahwa adenosin memiliki banyak peran dalam tubuh dan mereka tidak dapat mengesampingkan keterkaitannya dalam masalah ketergantungan obat dan kesuburan.

Meski riset ini telah dipublikasikan pada salah satu jurnal Nature bergengsi, namun karena masih ada keraguan, orang Inggris tetap tidak meyakininya.

Prof. Edzard Ernst, dari Exeter University, seperti yang dilansir Daily Mail mempertanyakan apakah para peneliti Amerika cukup cermat dan mengatakan, hasil pada hewan tidak semestinya ditiru pada manusia. (Erabaru/DM/sua)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: