Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ploso Jombang

Profil Umum Daerah

 ploso rsud2

Ploso adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia. Terletak di bagian utara Kabupaten Jombang, kecamatan ini di sebelah selatan dibatasi oleh Sungai Brantas. Ploso merupakan persimpangan jalan provinsi Jombang-Tuban dengan jalur Lengkong-Mojokerto.
Wilayah Kecamatan Ploso memiliki luas 25,96 km2, jumlah Penduduk sekitar 42.695 jiwa ( data Desember 2009 ). Batas Wilayah sebeleh Utara, Kecamatan Kabuh, Sebelah Timur Kecamatan Kudu, Sebelah Selatan Kecamatan Tembelang, Sebelah Barat Kecamatan Plandaan.
Kecamatan Ploso terdiri dari 13 desa terdiri dari Ds. Tanggungkramat, Ds. Rejoagung, Ds. Ploso, Ds. Jatigedong, Ds. Daditunggal, Ds. Gedongombo, Ds. Jatibanjar, Ds. Pandanblole, Ds. Pagertanjung, Ds. Losari, Ds. Bawangan, Ds. Kebonagung, Ds. Kedungdowo.
Dahulu Ploso juga merupakan nama kawedanan (Pembantu Bupati), yang wilayahnya mencakup daerah Kabupaten Jombang di sebelah utara Sungai Brantas. Dan di daerah ini terdapat beberapa hasil pertanian seperti tembakau, jagung dan tanaman palawija.

Gerakan brain gym untuk perkembangan bicara

Brain Gym Exercise
1. Gerakan Meregangkan Otot : yaitu kemampuan berguling dari posisi tiarap sampai ke posisi telentang, dan sebaliknya, kemampuan membedakan daerah tubuh dan memulai gerakan dari satu bagian tubuh. Fungsinya: membantu bicara, pemahaman dan halangan lain yang terkait dengan bicara.
2. Burung Hantu Reseptif: terapis berdiri di belakang si anak dan meremas bahu si anak sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Fungsinya: integrasi tengkuk, integrasi visi dan mendengarkan dengan gerakan seluruh tubuh, agar bisa mensejajarkan kepala dan leher dengan lebih baik, memperhatikan, membedakan dan persepsi auditori, memori, kemampuan berpikir dan bicara.
3. Mengaktifkan Tangan: terapis mengangkat kedua lengan anak lurus ke atas, menahan dengan lembut pada kedua sisi kepalanya, memanjangkannya, dan mengangkatnya sedikit naik dari tulang iga. Fungsi: mengurangi ketegangan motorik kasar dalam bahu, dada, lengan dan tangan, koordinasi mata-tangan, cara bicara ekspresif dan kemampuan berbahasa, pernafasan lebih baik
4. Lambaian Kaki: terapis memegang bagian bawah lutut (origo) dan di bagian tumit (insertio) secara bersamaan dengan posisi direntangkan (seperti posisi sila, tetapi kaki satunya menapak di lantai dan si anak berdiri, terapis menahan di belakang). Kemudian kakinya digerak-gerakkan seperti sedang melambai, ulangi dengan kaki lainnya. Fungsi: kemampuan untuk menahan atau memulai sendiri, menahan berat secara lebih baik, mempertinggi ekspresi diri, dan cara bicara yang ekspresif serta keterampilan berbahasa
5. Pompa Betis: anak berdiri pada jarak satu lengan dari meja dan menyandar ke dean pada meja sambil meletakkan telapak tangan di atas meja. Satu kaki ditarik lurus ke belakang sampai jari jari kakinya menyentuh lantai dan tumitnya terangkat. Terapis memegangi pergelangan kaki anak sambil dengan lembut menekan tumit anak ke lantai. Lalu tumit diangkat dan proses menekan mengangkat diulangi beberapa kali untuk memanjangkan otot betisnya. Fungsi: kemampuan untuk menahan dan memulai sendiri, menahan bobot, mempertinggi kesadaran sikap tubuh dan ekspresi diri, cara berbicara yang ekspresif dan kemampuan berbahasa
6. Sakelar Otak: dengan satu tangannya, terapis dengan kuat memijat jaringan lunak di bawah tulang selangka anak, kiri dan kanan tulang dada, lalu terapis meletakkan tangannya yang lain pada pusar si anak. Cara lain: terapis dengan perlahan menggerakkan sebuah pena dengan memegangnya dari jarak 12 sampai 18 inci dari hidung si anak, dari kiri bidang visual anak ke kanan, dan kembali lagi. Diulang. Fungsi: mengirim pesan dari belahan otak kanan ke sebelah kiri tubuh, dan sebaliknya, menerima oksigen lebih banyak, perbaikan koordinasi visual, peningkatan kemampuan berpijak dan memusat.
7. Menguap Ber Energi; terapis menekan atau dengan lembut memijat sembarang titik yang tegang pada rahang anak khususnya pada tepi geraham bagian atas dan bawah, kemudian bersama sama anak, terapis mengeluarkan bunyi desahan (menguap) yang membuat relaks. Fungsi: perbaikan fungsi motor untuk otot otot yang terlibat dalam proses mengunyah dan bersuara, peningkatan relaksasi dan visual, perbaikan komunikasi yang ekspresif dan verbal, peningkatan kemampuan memilah informasi penting.
8. Pasang Telinga; terapis menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menarik kedua telinga anak dengan lembut keluar dan melepas gulungannya dimulai dari puncak telinga dipijat lembut sepanjang lengkungannya, berakhir di cuping bawah (3 titik atas tengah bawah). Ulangi 3 x atau lebih. Fungsi: membedakan persepsi, memori auditori, mendengarkan suaranya sendiri saat berbicara, daya ingat jangka pendek, bicara dalam hati dan keterampilan berpikir, mendengar dengan kedua telinga secara bersamaan.
Sumber buku “I am The Child” alih bahasa: Aan Anwar

Beberapa Jenis Tulang

Seorang murid nakal bernama Rini yang masih sekolah mendapat pertanyaan dari Guru Biologinya.

Guru : “Rini, coba sebutkan beberapa jenis tulang yang kita kenal dalam tubuh kita!”

Rini : “Tulang keras, tulang lunak dan… tulang lunak yang sewaktu-waktu bisa keras, Pak!”

Guru : “Dasar otak ngeres!”

Seluruh muridpun tertawa riuh.

TES KELULUSAN DI RS JIWA

Tes kelulusan
di RS Jiwa : setiap pasien yg dinyatakan sembuh harus menyanyi dg
keras..!!, seorang pasing brnyanyi “racun d tngan kiriku, madu di..?!?”
Oke LULUS!! pasien ke-dua “sepatumu dr paris, spatuku dr itali” Oke
LULUS! pasien ke-tiga sambil senyam senyum “aku masih..seperti yg dulu”
Oke gak LULUS!! hahaha..

Apa akupunktur ada efek sampingnya?

Setengah bercanda, seorang praktisi akupunktur berujar

…akupunktur itu efek sampingnya cuman satu… bokek… (he..he..)

Hal ini disebabkan karena treatment akupunktur memang umumnya tidak cukup untuk dilakukan satu atau dua kali saja, tetapi harus rutin dan berkesinambungan, seperti halnya olah raga yang harus kita lakukan dengan rutin untuk menjaga kesehatan.

Dan memang bisa dibilang bahwa pada saat ini akupunktur masih relatif lebih mahal ketimbang obat bebas yang bisa dibeli di warung-warung. Kalau diamati di tempat-tempat praktek akupunktur pun, terlihat pengunjung yang umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas.
Mereka yang memutuskan untuk melakukan terapi akupunktur umumnya tergolong ke dalam 2 kelompok, yaitu:

-Orang-orang yang sudah tidak punya harapan lagi terhadap metoda pengobatan Barat
-Orang-orang yang tidak menyukai efek samping pengobatan Barat dan lebih memilih pengobatan alamiah.

But, seriously, is there any side effect of acupuncture?

Jawabannya adalah: tidak ada, selama praktek akupunktur tersebut dilakukan oleh praktisi yang kompeten. Beberapa hal seperti pegel-pegel, rasa kesetrum, dan ngantuk biasanya dirasakan oleh mereka yang menjalani terapi akupunktur. Namun rasanya ini tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori efek samping.

Jarum Akupunktur. Seperti apa sih?

Umumnya, begitu mendengar kata ’tusuk jarum’ maka nyali orang langsung menciut. Bagi yang pernah merasakan perihnya tertusuk jarum suntik, duri atau benda tajam lainnya, maka ingatannya segera melayang kepada saat-saat yang penuh dengan siksaan itu. Srriiingggg… dan kemudian yang muncul adalah perasaan ngeri. Ditambah lagi dengan bayangan bahwa kalau di akupunktur itu kita tidak sekedar ditusuk dengan 1 jarum saja, tapi dengan banyak jarum. Haduuuh… gimana rasanya tuh?

Tenang… tenang. Sensasi yang kita rasakan ketika ditusuk dengan jarum akupunktur sangatlah berbeda dengan yang kita rasakan ketika ditusuk dengan jarum suntik, duri, atau benda tajam lainnya. Memang ada sedikit rasa perih, tapi sedikiiiiittt sekali dan sebentaaaarrr sekali.. dibandingkan dengan ueeenaaknya yang luuaaamaaaaa… he..he.. Bahkan cukup banyak orang yang tidak merasakan apa pun. ”Lho, jarumnya sudah masuk gitu, mbak?”, begitulah reaksi yang cukup sering saya dengar.

Oleh karena itulah beberapa orang malah bisa dibilang ’doyan’ ditusuk dengan jarum akupunktur. Hal ini karena efek relaksasi yang ditimbulkan oleh jarum-jarum ini. Ada yang bahkan ’tidak rela’ kalau hanya ditusuk dengan 1 – 5 jarum saja, maunya lebih dari 10 jarum. ”Lagi dong… lha wong biasanya juga sampai 15 kok,” protesnya. Walah, ini nih tipe yang bener-bener nggak mau rugi. Padahal manjur-tidaknya terapi akupunktur tidak bergantung pada sedikit-banyaknya jumlah jarum yang ditusukkan, tapi bergantung pada terapi yang tepat sesuai dengan yang dibutuhkan saat itu. Dan terapi ini kadangkala hanya memerlukan penggunaan 1 jarum saja. Kalau lebih, malah akan membuyarkan efek yang diinginkan.

Back to our main topic of this post, seperti apa sih jarum akupunktur itu? Jarum akupunktur sangat berbeda dengan jarum suntik yang biasanya dipergunakan pada pengobatan medis Barat. Jarum medis Barat (dikenal dengan sebutan syringe) biasanya berrongga, strukturnya tebal dan kokoh, dan ujungnya runcing. Rongga pada syringe berfungsi untuk mengalirkan cairan yang diinjeksikan ke dalam tubuh atau mengalirkan cairan yang diambil dari tubuh. Struktur syringe yang tebal dan kokoh dimaksudkan untuk mempermudah penusukan, dan ujung yang runcing dimaksudkan untuk memotong dan menembus jaringan tubuh.

Berbeda dengan syringe, jarum akupunktur yang umum digunakan terbuat dari stainless steel dengan struktur yang padat tidak berrongga, sangat tipis (hampir setipis helaian rambut), lentur, dan berujung tumpul. Jarum yang seperti ini sering disebut dengan filiform needle. Dengan batang yang sangat tipis, kelenturan yang tinggi dan ujung yang tumpul maka memungkinkan jarum akupunktur untuk menyisip (bukan memotong) dengan luwesnya diantara serat-serat otot atau jaringan tubuh. Hal ini pulalah yang menyebabkan penusukan dengan jarum akupunktur seringkali tidak menimbulkan keluarnya darah, karena memang tidak ada jaringan tubuh yang terpotong (terkecuali untuk titik-titik tertentu yang lokasinya terletak pada atau berhimpitan dengan pembuluh darah, atau yang memang tujuan penusukan tersebut adalah untuk pengeluaran darah, more about this later…).

Pada jaman sekarang ini, biasanya jarum akupunktur yang dipergunakan adalah jarum yang disposable, sekali pakai trus dibuang. Setiap batang jarum dikemas secara terpisah untuk menjaga kesterilannya. Dengan jarum yang sekali pakai dan steril ini, maka tidak perlu ada kekhawatiran akan terjadinya transmisi penyakit dari satu pasien ke pasien lainnya. Namun demikian, for our own sake, tidak ada salahnya kalau kita selalu berjaga-jaga. Ada baiknya apabila Anda memastikan kembali bahwa akupunkturis yang Anda datangi benar-benar menggunakan jarum yang disposable ini. Seperti kata orang bijak, ‘teliti sebelum membeli’.

Nah, sesudah dijelaskan seperti ini, apa masih takut juga…?

tidak perlu menggunakan BRa

seseorang tamu yang rada sombong bernama marcus habis berkencan dengan cilia seorang perempuan malam.marcus masih memperhatikan cilia saat mengenakan BRA pada dadanya yang datar dan kempes itu
Marcus:”untuk apa kau mengenakan 8RA,toh tidak perlu kau bungkus dibalik BRA itu?!”
Cilia dengan sewotnya menjawab:”usil amat mulutmu,saat kau mengenakan celana dalam tadi,aku tidak bilang kalau hal itu sia sia juga karena tak ada yang perlu kau bungkus di balik celana dalammu itu,iya kan…